Skip to main content

Kenapa Jalan Cepat Rusak? Ini Penyebab Jalan Berlubang dan Dampak Truk ODOL

Jalan raya merupakan salah satu infrastruktur penting yang mendukung kegiatan ekonomi dan distribusi barang di Indonesia. Kondisi jalan yang baik membantu kendaraan bergerak dengan aman, mempercepat pengiriman barang, dan menjaga biaya transportasi tetap terkendali. Sebaliknya, jalan yang rusak dapat menyebabkan kemacetan, meningkatkan risiko kecelakaan, memperbesar biaya perawatan kendaraan, dan menghambat kegiatan logistik.

Lalu, kenapa banyak jalan menjadi rusak dan berlubang? Apakah penyebabnya hanya hujan dan buruknya kualitas pembangunan jalan, atau ada faktor lain yang mempercepat kerusakan tersebut?


Salah satu faktor penting yang perlu diperhatikan adalah kendaraan Over Dimension Over Loading (ODOL), yaitu kendaraan yang memiliki dimensi melebihi ketentuan atau membawa muatan melampaui batas yang diizinkan. Kendaraan dengan muatan berlebih memberikan tekanan lebih besar pada struktur jalan, terutama apabila berulang kali melewati ruas jalan yang tidak dirancang untuk menanggung beban tersebut.


Pemerintah juga terus memperkuat pengawasan terhadap kendaraan angkutan barang melalui teknologi, termasuk Electronic Traffic Law Enforcement (ETLE) yang terintegrasi dengan Weigh-in-Motion (WIM). Teknologi ini memungkinkan berat kendaraan diukur ketika kendaraan melintas, tanpa harus menghentikannya untuk penimbangan awal.


Artikel ini membahas penyebab jalan rusak, bagaimana kendaraan ODOL mempercepat kerusakan infrastruktur, dampaknya terhadap keselamatan dan biaya logistik, serta perkembangan tilang elektronik untuk kendaraan bermuatan berlebih di jalan tol.


Daftar Isi

1. Kenapa Jalan Cepat Rusak?

1.1 Beban kendaraan yang melebihi kemampuan jalan

1.2 Air hujan dan drainase yang buruk

1.3 Kualitas konstruksi dan kondisi tanah

1.4 Volume lalu lintas dan keterlambatan perawatan

2. Apa Itu ODOL dan Mengapa Berbahaya?

3. Bagaimana Truk ODOL Merusak Jalan?

3.1 Dampak Jalan Rusak bagi Masyarakat dan Industri Logistik

3.2 Apa Itu ETLE WIM atau Timbangan Tanpa Berhenti?

4. Cara kerja sistem ETLE WIM

5. Perkembangan ETLE HUB di Indonesia

6. Apa yang Bisa Dilakukan untuk Mengurangi Kerusakan Jalan?

7. Kesimpulan

8. FAQ: Pertanyaan Seputar Jalan Rusak dan ODOL


1. Kenapa Jalan Cepat Rusak?

Kerusakan jalan tidak disebabkan oleh satu faktor saja. Kondisi jalan merupakan hasil interaksi antara beban kendaraan, kualitas konstruksi, daya dukung tanah, sistem drainase, kondisi cuaca, dan pemeliharaan infrastruktur.


Menurut Direktorat Jenderal Bina Marga, beban kendaraan yang berlebihan merupakan salah satu faktor yang mempercepat kerusakan perkerasan jalan. Namun, faktor alam, kondisi tanah, air, serta pemeliharaan yang kurang optimal juga berkontribusi terhadap kerusakan tersebut.


Artinya, ketika sebuah jalan mengalami kerusakan, penyebabnya tidak selalu bisa ditentukan hanya dengan melihat lubang atau retakan di permukaannya. Diperlukan pemeriksaan terhadap kondisi lapisan jalan, sistem drainase, dan beban lalu lintas yang melewati ruas tersebut.


1.1. Beban kendaraan yang melebihi kemampuan jalan

Jalan raya dirancang berdasarkan perhitungan teknis yang mempertimbangkan jenis kendaraan, frekuensi lalu lintas, beban sumbu, kondisi tanah dasar, dan umur rencana perkerasan.

Kendaraan yang membawa muatan sesuai ketentuan tetap memberikan tekanan pada jalan. Namun, ketika kendaraan membawa beban melebihi batas yang diperbolehkan, tekanan yang diterima lapisan perkerasan dapat meningkat secara signifikan.


Masalahnya bukan hanya berat total truk, melainkan juga bagaimana berat tersebut didistribusikan ke setiap sumbu roda. Beban yang terkonsentrasi pada sumbu tertentu bisa memberikan tekanan lebih besar pada jalan dibandingkan beban yang terdistribusi dengan baik.


Jika kondisi tersebut terjadi secara berulang, lapisan aspal dan fondasi jalan dapat mengalami kelelahan struktur. Kerusakan yang pada awalnya berupa retakan kecil kemudian berkembang menjadi alur roda, permukaan bergelombang, hingga lubang yang semakin besar. Inilah alasan mengapa penanganan kendaraan overloading penting untuk menjaga umur layanan jalan.


1.2. Air hujan dan drainase yang buruk

Selain kendaraan bermuatan berlebih, air merupakan salah satu faktor penting dalam kerusakan jalan.


Ketika air hujan tidak mengalir dengan baik dan menggenang di permukaan jalan, air dapat masuk melalui retakan aspal. Jika air mencapai lapisan fondasi atau tanah dasar, kekuatan dukungan struktur jalan bisa menurun.


Permukaan yang awalnya masih mampu menahan beban kendaraan kemudian menjadi lebih rentan terhadap tekanan roda. Ketika kendaraan terus melintas, lapisan yang melemah dapat mengalami deformasi, retak, atau kehilangan sebagian materialnya.


Kondisi ini sering terlihat pada jalan yang memiliki genangan berkepanjangan, saluran air tersumbat, atau drainase yang tidak berfungsi sebagaimana mestinya.


Direktorat Jenderal Bina Marga juga menjelaskan pentingnya drainase dalam menjaga konstruksi jalan. Air yang tidak segera dialirkan dapat membuat tanah dasar kehilangan daya dukung dan mempercepat munculnya kerusakan setelah hujan.


Karena itu, memperbaiki jalan berlubang saja belum tentu menyelesaikan masalah apabila penyebab masuknya air tidak ikut ditangani.


1.3. Kualitas konstruksi dan kondisi tanah

Ketahanan jalan juga dipengaruhi oleh kualitas perencanaan dan pelaksanaan konstruksi. Lapisan fondasi yang tidak memenuhi spesifikasi, pemadatan yang kurang baik, material yang tidak sesuai, maupun ketebalan perkerasan yang tidak mencukupi dapat menyebabkan jalan lebih cepat rusak.


Kondisi tanah dasar juga perlu diperhatikan. Jalan yang dibangun di atas tanah dengan daya dukung rendah memerlukan perencanaan dan penanganan khusus agar mampu menopang beban lalu lintas dengan baik.


Apabila kondisi tanah tidak ditangani secara tepat, jalan dapat mengalami penurunan permukaan atau amblas meskipun kendaraan yang melintas tidak selalu melanggar batas muatan.


Karena itu, tidak tepat jika setiap kerusakan jalan langsung dianggap sebagai akibat truk ODOL. Faktor desain, mutu pekerjaan, kondisi tanah, dan pelaksanaan pembangunan juga harus dievaluasi.


1.4. Volume lalu lintas dan keterlambatan perawatan

Setiap kendaraan yang melintas memberikan kontribusi terhadap keausan jalan. Semakin tinggi volume lalu lintas, semakin besar pula beban kumulatif yang harus ditanggung oleh perkerasan selama umur pemakaiannya.

Pada ruas yang sering dilewati kendaraan berat, pengaruh beban tersebut perlu diperhitungkan dengan cermat. Jika pemeriksaan dan pemeliharaan tidak dilakukan tepat waktu, retakan kecil dapat berkembang menjadi kerusakan yang lebih luas.


Penanganan dini biasanya lebih efektif untuk mencegah kerusakan semakin parah. Sebaliknya, membiarkan air masuk melalui retakan atau membiarkan lubang membesar dapat membuat perbaikan berikutnya menjadi lebih kompleks.

Pekerjaan utilitas yang tidak ditangani dengan baik setelah penggalian juga dapat menjadi titik lemah pada badan jalan. Oleh sebab itu, pengawasan konstruksi, pemulihan permukaan setelah pekerjaan utilitas, dan pemeliharaan rutin merupakan bagian penting dari upaya mempertahankan kualitas jalan.


2. Apa Itu ODOL dan Mengapa Berbahaya?

ODOL merupakan singkatan dari Over Dimension Over Loading. Istilah ini digunakan untuk menjelaskan dua bentuk pelanggaran yang berbeda dalam operasional kendaraan angkutan barang.


Over Dimension adalah kondisi ketika dimensi atau rancang bangun kendaraan tidak sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Contohnya adalah perubahan panjang sasis atau ukuran bak yang menyebabkan kendaraan melebihi dimensi yang diizinkan.


Sementara itu, Over Loading adalah kondisi ketika kendaraan membawa muatan atau memiliki berat operasional yang melampaui batas yang diperbolehkan.


Kedua pelanggaran tersebut tidak selalu terjadi bersamaan. Truk dengan dimensi standar tetap dapat mengalami overloading apabila mengangkut barang terlalu berat. Sebaliknya, kendaraan yang dimodifikasi secara berlebihan dapat melanggar ketentuan dimensi meskipun belum membawa muatan penuh.


Salah satu hal yang sering disalahpahami adalah perbedaan antara berat total kendaraan dan daya angkut barang. Batas berat kendaraan tidak otomatis sama dengan jumlah berat barang yang boleh dimasukkan ke dalam bak.


Dalam operasionalnya, perusahaan harus memperhatikan dokumen kendaraan, batas berat yang diizinkan, berat kendaraan beserta karoserinya, dan ketentuan jalan yang akan dilalui.


Kendaraan yang melebihi kapasitas berisiko mengalami penurunan kemampuan pengereman, ban bekerja di luar batas yang dirancang, kerusakan komponen, dan perubahan kestabilan ketika menikung atau melakukan pengereman mendadak.


ODOL juga dapat menimbulkan dampak yang lebih luas karena risiko tersebut tidak hanya ditanggung oleh pemilik kendaraan. Pengguna jalan lain, masyarakat di sekitar jalur distribusi, dan pemerintah sebagai pengelola infrastruktur ikut terkena dampaknya.


3. Bagaimana Truk ODOL Merusak Jalan?

Untuk memahami dampak truk ODOL, kita perlu melihat bagaimana jalan bekerja. Struktur jalan pada umumnya terdiri dari lapisan permukaan, lapisan fondasi, dan tanah dasar yang bersama-sama menopang beban kendaraan.


Ketika truk melintas, gaya dari roda diteruskan ke lapisan-lapisan tersebut. Jalan yang dirancang dan dibangun dengan baik dapat menyebarkan beban sesuai perhitungan teknisnya.


Namun, ketika beban berlebih melewati jalan secara terus-menerus, tekanan berulang dapat mempercepat kerusakan struktur.


Kerusakan akibat beban sumbu yang berlebihan

Berat total kendaraan memang penting, tetapi distribusi beban pada setiap sumbu juga menentukan seberapa besar tekanan yang diterima perkerasan.


Dalam kajian perkerasan jalan, peningkatan beban sumbu dapat meningkatkan faktor kerusakan secara tidak proporsional. Besarnya dampak tetap bergantung pada struktur jalan, konfigurasi sumbu, kondisi perkerasan, dan metode perhitungan yang digunakan.


Direktorat Jenderal Bina Marga pernah menyampaikan bahwa kenaikan beban sumbu dari 10 ton menjadi 13 ton dapat meningkatkan faktor kerusakan jalan sekitar tiga kali lipat dalam konteks kajian yang disampaikan. Angka tersebut menggambarkan mengapa selisih beban yang terlihat tidak terlalu besar dapat berdampak jauh lebih besar terhadap umur perkerasan.


Kerusakan yang terlihat di permukaan jalan

Beban berulang yang melampaui kemampuan struktur dapat memunculkan beberapa jenis kerusakan.

Pertama, retakan akibat kelelahan material, yaitu retakan yang berkembang ketika lapisan jalan berulang kali menerima tegangan.


Kedua, alur roda atau rutting, berupa cekungan memanjang yang terbentuk pada jalur roda karena deformasi lapisan perkerasan atau lapisan di bawahnya.


Ketiga, lubang jalan yang dapat terbentuk ketika retakan melebar, air masuk ke struktur, dan material permukaan kehilangan ikatan atau terlepas akibat lalu lintas.

Keempat, penurunan permukaan atau amblas ketika lapisan fondasi maupun tanah dasar tidak lagi mampu menopang beban dengan baik.


Kerusakan-kerusakan tersebut dapat saling berkaitan. Misalnya, jalan yang sudah memiliki retakan akan semakin rentan ketika air masuk ke dalam struktur. Jika pada saat bersamaan kendaraan berat terus melintas, kerusakan dapat berkembang lebih cepat.


Dengan demikian, kendaraan ODOL merupakan salah satu faktor yang dapat mempercepat kerusakan, tetapi tingkat kerusakan suatu ruas jalan tetap harus dinilai dengan mempertimbangkan kondisi teknisnya.

4. Dampak Jalan Rusak bagi Masyarakat dan Industri Logistik


Jalan rusak bukan hanya persoalan kenyamanan pengendara. Kerusakan infrastruktur memiliki konsekuensi terhadap keselamatan, biaya transportasi, dan kelancaran distribusi barang.


Bagi pengguna kendaraan pribadi maupun sepeda motor, lubang dan permukaan yang tidak rata dapat meningkatkan risiko kehilangan kendali, terutama ketika lubang sulit terlihat akibat hujan atau genangan air.


Bagi perusahaan logistik, kondisi jalan yang buruk dapat memperpanjang waktu perjalanan. Kendaraan harus mengurangi kecepatan, memilih jalur yang lebih aman, atau menunggu ketika ruas jalan mengalami gangguan. Akibatnya, jadwal pengiriman dan pemanfaatan armada dapat ikut terdampak.


Kerusakan jalan juga meningkatkan potensi pengeluaran untuk perawatan kendaraan. Suspensi, ban, sistem kemudi, dan komponen lainnya dapat menerima beban tambahan ketika kendaraan berkali-kali melewati permukaan yang tidak rata.

Dari sisi pemerintah, jalan yang rusak memerlukan anggaran untuk perbaikan dan pemeliharaan. Direktorat Jenderal Bina Marga pernah menyampaikan estimasi kerugian ekonomi negara akibat kendaraan ODOL sebesar Rp43,47 triliun per tahun dalam materi sosialisasinya. Angka ini sebaiknya dipahami sebagai estimasi dampak yang dilaporkan, bukan berarti seluruh anggaran perbaikan jalan pasti disebabkan oleh ODOL semata.


Dampak lainnya adalah meningkatnya potensi konflik kepentingan dalam rantai pasok. Pemilik barang dapat menginginkan biaya pengiriman serendah mungkin, sementara operator angkutan perlu menjaga biaya operasional dan keselamatan. Apabila tarif ditekan dengan cara mengangkut barang melebihi kapasitas, keuntungan jangka pendek berisiko menimbulkan biaya dan risiko yang lebih besar di kemudian hari.


Karena itu, transportasi yang efisien seharusnya tidak hanya mengukur banyaknya barang dalam satu perjalanan. Kepatuhan terhadap kapasitas kendaraan, keselamatan, ketahanan armada, dan keandalan jadwal juga merupakan bagian dari efisiensi logistik.


5. Apa Itu ETLE WIM atau Timbangan Tanpa Berhenti?

Salah satu perkembangan penting dalam pengawasan kendaraan angkutan barang adalah penggunaan teknologi Weigh-in-Motion atau WIM.


WIM merupakan teknologi yang memungkinkan berat kendaraan diukur ketika kendaraan sedang bergerak melewati sensor. Berbeda dengan penimbangan statis yang mengharuskan kendaraan berhenti di atas alat timbang, WIM dapat merekam data berat kendaraan selama kendaraan melintas pada kecepatan yang sesuai dengan kemampuan sistem.

Teknologi ini membantu proses pengawasan karena petugas tidak hanya mengandalkan pemeriksaan manual atau kesediaan setiap kendaraan untuk masuk ke fasilitas penimbangan.


Ketika terintegrasi dengan ETLE, data penimbangan dapat dihubungkan dengan identitas kendaraan dan informasi lain untuk membantu mengidentifikasi indikasi pelanggaran.


5.1. Cara kerja sistem ETLE WIM

Secara umum, proses pengawasan dapat dijelaskan dalam beberapa tahap.

Pertama, kendaraan melewati sensor WIM. Sistem merekam parameter penimbangan ketika kendaraan melintas, termasuk informasi beban yang terdeteksi pada sumbu dan estimasi berat kendaraan sesuai kemampuan perangkat.

Kedua, identitas kendaraan dikenali. Kamera ANPR (Automatic Number Plate Recognition) membantu membaca nomor registrasi kendaraan. Data dari perangkat lain, termasuk RFID apabila digunakan, dapat mendukung proses identifikasi.

Ketiga, data dibandingkan dan dianalisis. Informasi kendaraan serta hasil pengukuran dapat dihubungkan dengan data kendaraan yang tersedia untuk membantu memeriksa apakah terdapat indikasi pelanggaran dimensi atau muatan.

Keempat, hasil pemantauan diproses sesuai mekanisme penegakan hukum. Data rekaman elektronik menjadi bagian dari proses pemeriksaan dan tindak lanjut. Status pelanggaran, validitas hasil pengukuran, serta prosedur penindakan tetap harus mengikuti ketentuan yang berlaku.


Karena itu, istilah timbangan tanpa berhenti perlu dipahami secara tepat. Kendaraan dapat ditimbang secara dinamis tanpa berhenti untuk penimbangan awal, tetapi hal ini tidak berarti setiap kendaraan yang tertangkap sensor otomatis dinyatakan bersalah atau langsung dikenai denda final tanpa proses lebih lanjut.


5.2. Perkembangan ETLE HUB di Indonesia

Penerapan ETLE di jalan tol bukan sepenuhnya hal baru. Korlantas Polri telah mengumumkan rencana penerapan ETLE di jalan tol sejak 2022, termasuk penggunaan WIM untuk pengawasan ODOL dan kamera kecepatan untuk pelanggaran batas kecepatan.


Perkembangan berikutnya adalah penguatan integrasi teknologi dan basis data melalui ETLE HUB.

Pada 10 Agustus 2026, Kementerian Perhubungan mengumumkan peluncuran ETLE HUB untuk mendukung target Zero ODOL 2027. Menurut keterangan resmi Kemenhub, sistem tersebut mengintegrasikan informasi kendaraan dengan Bukti Lulus Uji Elektronik (BLUE) dan teknologi ANPR, RFID, serta WIM.


Dalam pengumuman yang sama, Kemenhub menyebutkan terdapat 51 titik pemantauan, yang terdiri atas 26 titik di Unit Pelaksana Penimbangan Kendaraan Bermotor (UPPKB) dan 25 titik di sejumlah ruas jalan tol.

Kemenhub juga melaporkan bahwa uji coba pada Januari hingga Juli 2026 di tiga titik pemantauan mendeteksi 198.127 pelanggaran kendaraan angkutan barang. Pada tahap uji coba tersebut, tindakan yang diberikan berupa peringatan administratif. Selanjutnya, sistem dikembangkan untuk mendukung penerbitan surat pelanggaran elektronik dan pembayaran denda melalui BRI Virtual Account.


Informasi tersebut dapat dibaca pada pengumuman resmi Kementerian Perhubungan mengenai peluncuran ETLE HUB.

Perkembangan ini memperlihatkan bahwa pengawasan ODOL bergerak menuju proses yang lebih terintegrasi. Namun, jumlah titik pengawasan dan mekanisme penerapannya dapat berkembang sehingga informasi terbaru sebaiknya merujuk pada pengumuman resmi pemerintah.


Bagi pemilik armada, perusahaan angkutan, dan pemilik barang, perkembangan ini menjadi alasan tambahan untuk memastikan muatan dan dimensi kendaraan sesuai ketentuan. Pemeriksaan tidak lagi hanya mengandalkan kemungkinan bertemu petugas di jalan karena sebagian pengawasan dapat dilakukan melalui teknologi.


Target Zero ODOL 2027 juga menegaskan bahwa penanganan masalah tidak cukup hanya dengan menindak pengemudi. Kemenhub menyatakan bahwa tanggung jawab harus dilihat dari hulu ke hilir, termasuk perusahaan angkutan, pemilik kendaraan, pemilik barang, dan pihak lain yang terlibat dalam pengoperasian kendaraan barang.


6. Apa yang Bisa Dilakukan untuk Mengurangi Kerusakan Jalan?

Mengurangi kerusakan jalan memerlukan kerja sama berbagai pihak, bukan hanya pemerintah atau pengemudi truk.

Pemerintah dan pengelola jalan perlu memastikan perencanaan, kualitas pembangunan, drainase, pemeliharaan, serta pengawasan beban kendaraan berjalan dengan baik. Kerusakan perlu ditangani berdasarkan penyebabnya agar perbaikan tidak hanya bersifat sementara.


Perusahaan angkutan barang perlu memastikan kendaraan yang dioperasikan memenuhi ketentuan dimensi, daya angkut, dan kelayakan teknis. Pemeriksaan ban, rem, suspensi, serta kondisi sasis harus menjadi bagian dari pemeliharaan rutin.

Dalam proses pemuatan, berat barang perlu disesuaikan dengan kapasitas legal kendaraan. Distribusi berat di dalam bak juga perlu diperhatikan agar beban tidak terkonsentrasi pada bagian tertentu atau menyebabkan kendaraan kehilangan kestabilan.


Pemilik barang juga mempunyai peran penting. Instruksi pengiriman dan target biaya sebaiknya tidak mendorong operator mengangkut muatan melebihi kapasitas. Perusahaan dapat mendiskusikan pilihan armada, pembagian muatan, dan jadwal pengiriman agar distribusi barang tetap efisien tanpa mengorbankan keselamatan.


Di sisi lain, masyarakat dapat membantu dengan melaporkan kerusakan jalan melalui saluran pengaduan resmi yang tersedia di wilayah masing-masing serta berkendara lebih hati-hati ketika melewati jalan berlubang atau tergenang.

Untuk perusahaan yang menggunakan jasa logistik, memilih penyedia angkutan yang memperhatikan kelayakan armada dan kepatuhan muatan merupakan langkah penting dalam membangun rantai pasok yang lebih aman dan dapat diandalkan.


7. Kesimpulan

Penyebab jalan rusak di Indonesia tidak dapat dijelaskan melalui satu faktor saja. Beban kendaraan yang berlebihan, drainase yang buruk, air hujan, kualitas konstruksi, kondisi tanah dasar, tingginya volume lalu lintas, dan keterlambatan pemeliharaan dapat saling memperburuk kondisi jalan.


Di antara faktor tersebut, kendaraan ODOL perlu mendapat perhatian khusus karena beban sumbu yang melampaui ketentuan dapat mempercepat kerusakan struktur perkerasan dan meningkatkan risiko kecelakaan.

Penggunaan ETLE WIM merupakan salah satu langkah untuk memperkuat pengawasan kendaraan angkutan barang. Dengan mengukur kendaraan ketika melintas dan mengintegrasikan data penimbangan dengan teknologi pengenalan kendaraan, pengawasan dapat dilakukan secara lebih luas tanpa mengandalkan penimbangan statis di setiap pemeriksaan.


Meski demikian, teknologi penindakan perlu disertai peningkatan kualitas infrastruktur, pemeliharaan jalan, kepatuhan perusahaan, dan tanggung jawab pemilik barang. Dengan kerja sama tersebut, tujuan mengurangi kendaraan ODOL dapat berjalan seiring dengan upaya menjaga keselamatan masyarakat, efisiensi distribusi barang, dan ketahanan infrastruktur transportasi Indonesia.


8. FAQ: Pertanyaan Seputar Jalan Rusak dan ODOL

Apa penyebab utama jalan cepat rusak?

Jalan dapat cepat rusak akibat kombinasi beban kendaraan yang berlebihan, kualitas konstruksi yang kurang baik, drainase buruk, air yang masuk ke lapisan jalan, kondisi tanah dasar, volume lalu lintas, dan kurangnya pemeliharaan.

Apakah semua jalan berlubang disebabkan oleh truk ODOL?

Tidak. Truk ODOL dapat mempercepat kerusakan jalan, tetapi lubang juga dapat disebabkan oleh air, kerusakan drainase, mutu konstruksi, kondisi tanah, banjir, dan keterlambatan perbaikan.

Apa perbedaan over dimension dan overloading?

Over dimension merupakan pelanggaran terkait dimensi atau rancang bangun kendaraan yang melebihi ketentuan. Overloading adalah kondisi ketika kendaraan membawa muatan atau memiliki berat yang melampaui batas yang diizinkan.

Apa itu ETLE WIM?

ETLE WIM merupakan sistem pengawasan dan penegakan hukum elektronik yang memanfaatkan teknologi Weigh-in-Motion untuk mengukur berat kendaraan ketika bergerak. Data pengukuran dapat diintegrasikan dengan teknologi pengenalan pelat nomor dan data kendaraan untuk membantu mengidentifikasi indikasi pelanggaran.

Apakah truk harus berhenti saat ditimbang menggunakan WIM di jalan tol?

Tidak untuk proses pengukuran dinamis awal. WIM dirancang untuk merekam parameter berat saat kendaraan bergerak. Namun, pemeriksaan lanjutan atau tindakan petugas tetap dapat dilakukan sesuai kebutuhan dan prosedur yang berlaku.

Apakah ETLE WIM sudah digunakan di jalan tol Indonesia?

Ya. Korlantas Polri telah mengumumkan penggunaan ETLE di jalan tol sejak 2022, termasuk untuk mendukung pengawasan ODOL dengan WIM. Pada Agustus 2026, Kementerian Perhubungan juga mengumumkan peluncuran ETLE HUB yang mengintegrasikan sejumlah teknologi pemantauan kendaraan.

Apa yang dimaksud dengan Zero ODOL 2027?

Zero ODOL 2027 merupakan target pemerintah untuk mendorong penanganan kendaraan over dimension dan overloading melalui peningkatan kepatuhan, pengawasan, dan penegakan hukum. Pelaksanaannya melibatkan berbagai pihak dalam ekosistem angkutan barang, bukan hanya pengemudi.

Bagaimana perusahaan logistik mencegah pelanggaran ODOL?

Perusahaan perlu memastikan kapasitas muatan sesuai dokumen kendaraan, dimensi memenuhi ketentuan, distribusi berat dilakukan dengan benar, dan kendaraan dirawat secara berkala. Pemilik barang juga perlu menghindari instruksi pengiriman yang mengharuskan truk mengangkut barang melebihi kapasitas legal.